Warto Gultom terus mengendarai becak motor di jalanan Kota Medan. Dari pekerjaan itulah uang ia dapat. Setiap hari ia menjalankan becak itu. Namun, kenaikan harga kebutuhan makin ”mengecilkan” pendapatannya itu. Harga barang kebutuhan dirasa makin mahal, sementara pendapatan tetap saja alias tak berubah. Warto dan jutaan penduduk Indonesia harus menerima nasib. Harga barang kebutuhan pokok, mulai dari beras, minyak, tahu, tempe, dan daging, terus membubung naik.
Saudaraku,
Itulah sedikit gambaran tentang kegelisahan hati yang ditemui oleh saudara kita. Kerasnya tantangan kehidupan yang mereka hadapi,ada yang membuat mereka menjadi patah arang dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak tahan dengan tekanan hidup. Namun, ada juga yang terus memacu tenaganya walau keringat dan darah mengalir ditubuhnya demi memperoleh rezeki yang telah ditetapkan-Nya, yang mungkin nilainya bagi kita kecil (dengan tingkat ekonomi menengah ke atas), tetapi dimata mereka itu adalah karunia-Nya yang sangat berharga. Saudaraku,sadarkah kita mungkin bisa jadi nasib kita lebih baik dibanding mereka.Tetapi,menumbuhkan kepedulian dan simpatik terhadap mereka ditengah kehidupan yang serba berkecukupan memang bukan hal yang mudah. Mungkin kadang lisan atau batin kita sering terlontar kata-kata,”Siapa suruh dulu waktu muda malas, dan sekarang miskin itukan karena salahnya sendiri. Kenapa dulu dia tidak bekerja keras,sehingga sekarang dia bisa memiliki kehidupan yang lebih baik” atau bahkan pernyataan sinis “Memang merekanya malas, gak mau bekerja keras, makanya miskin.”
Saudaraku,
Ada sebuah karakter yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman kepada Alloh. Karakter ini tumbuh menjadi bagian kepribadian dalam dirinya. Mereka,ternyata adalah orang-orang yang senantiasa berfikir tentang kondisi sekelilingnya, tentang kondisi umatnya. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berfikir bagaimana bisa membangkitkan keterpurukan yang dialami bangsanya hingga bagaimana kesejahteraan itu mampu terwujud? Mereka tenggelam memikirkan masalah orang lain, hanyut memikirkan obsesi-obsesi umatnya,bukan obsesi dan ambisi pribadinya. Sakit hatinya bila umatnya didzalimi dan gembira jiwanya bila umatnya kembali kepada Alloh. Hidupnya terhiasi oleh pengabdian yang indah dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain disekitarnya, hingga maut menjemputnya kebaikannya terukir direlung hati setiap orang. Setiap orang memujinya, mendo’akannya, dan mencintainya karena kebaikan yang ditanamkannya. Orang-orang dengan pemikiran seperti ini tidaklah banyak, tetapi justru mungkin banyak orang heran dengan pemikiran mereka.
Saudaraku,
Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam mencontohkan kepada kita untuk memikirkan tentang kondisi umatnya. Kegundahannya digambarkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an QS. Fathir ayat 8:“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”. Dalam tafsirnya Ibnu Abbas radhiallahuanhu menguraikan,”Janganlah engkau bunuh jiwamu karena kegundahan berat yang melanda dirimu karena mereka meninggalkan keimanan.” Sayyid Quthb rahimahullah mengatakan dalam tafsir Fidziilal Al-Qur’an,juz 5:”Ayat ini adalah semacam hiburan dari Alloh kepada Rasulullah, agar terlepas beban berat yang menggelayuti hatinya secara manusiawi yang sangat ingin memberi petunjuk kepada umatnya. Rasulullah ingin agar umatnya bisa terbuka dan melihat kebenaran yang dibawanya diantara mereka. Rasulullah mempunyai obsesi kemanusiaan yang sangat ketara sekali. Alloh mengiringi perasaan-perasaan yang ada dalam jiwanya. Kemudian menjadi jelas bagi Rasulullah bahwa masalah itu adalah otoritas Alloh dan bukan otoritas dirinya. Itulah juga yang dirasakan oleh para juru dakwah yang ikhlas dalam seruan mereka. Mereka tahu nilai seruannya, keindahan seruannya dan kebaikan didalamnya. Lalu mereka melihat manusia pada saat yang sama menolak dan menjauhi seruan itu.”
Saudaraku renungkanlah,
Sikap memikirkan kondisi umat itupun diikuti oleh jejak para sahabat. Umar radhiallahuanhu juga sangat memikirkan rakyatnya,hingga sedikit saja waktunya untuk beristirahat.Hingga seorang da’i bernama Hasan Al-Banna rahimahullah pun menulis gejolak pikirannya dalam memoarnya.”Aku sungguh merasakan sakit yang sangat karena masalah ini. Aku melihat bangsa Mesir yang mulia, yang memiliki ketinggian Islam yang mulia sebagai warisannya, harga dirinya, dan inti kebaikannya dan telah dibanggakan selama empat belas abad penuh, tapi bangsa Mesir tertawan dengan perang barat yang keji dan dengan berbagai senjata yang siap mematikan, dengan harta benda, dengan kedudukan, dengan penampilan, dengan kenikmatan yang tampak, dengan kekuatan dan berbagai sarana propaganda mereka. Perasaaan seperti inilah yang mendorongku untuk kerap menyampaikannya kepada teman-teman yang ikhlas dan tulus. Gejolak perasaan seperti ini pula yang menyebabkanku keluar masuk maktabah salafiyah. Disana aku bertemu dengan seorang mukmin, mujahid, seorang yang kuat, penulis Islam Sayyid Muhibbuddin Al-Khathib. Disana juga aku bertemu dengan para tokoh Islam yang mulia, yang terkenal dengan semangat Islamnya dan jiwa keagamaannya.”(Mudzakkirah Dakwah wa Da’iyah)
Saudaraku,
Sadar ataupun tidak, mereka ada disekitar kita, yaitu orang-orang lemah yang membutuhkan uluran tangan kepedulian kita dan orang-orang yang senantiasa gundah dalam setiap hembusan nafasnya memikirkan kondisi masyarakat disekitarnya.Sudahkah kita merasakan apa yang mereka rasakan?
Julian Said:
on Friday, March 21, 2008 at 11:15 am
Setuju, Kang Agus. Kesibukan sehari-hari sering membuat kita lalai pada kondisi lingkungan di sekitar kita, lupa pada tanggung jawab dan amanah yang seharusnya kita tunaikan, dan lupa pada realita. Makanya, kita harus saling mengingatkan