Keluarga Alumni (KALAM) Salman ITB mengadakan Rapat Kerja Nasional pada hari Sabtu-Ahad, 22-23 Maret 2008 kemarin. Saya bersyukur berkesempatan hadir dalam pertemuan ini. Pertemuan ini diadakan di Indosat Training and Conference Centre, Jatiluhur-Purwakarta, Jawa Barat. Hampir semua pengurus dan team setiap divisi hadir dalam acara ini. Namun, ada tamu undangan spesial yang ikut hadir juga dalam acara ini, yaitu Bpk. Fahmi Mochtar (Direktur Utama PT. PLN (Persero)) dan Prof. Dr. Ir. Zuhal, M.Sc.E.E (Keynote Speaker).Tema yang diangkat dalam forum kali ini adalah “Membangun Kalam Salman sebagai Komunitas Berbasis Ilmu Pengetahuan”, dan tema ini senada dengan sebuah buku berbobot yang ditulis oleh Prof. Dr. Ir. Zuhal, M.Sc.E.E yang baru saja diluncurkan berjudul “Kekuatan Daya Saing Indonesia, Mempersiapkan Masyarakat Berbasis Pengetahuan”.
Pakar Manajemen, Peter F Drucker menyatakan“Aset paling berharga bagi perusahaan pada abad 21 ialah ilmu pengetahuan dan pekerja terdidik (knowledge worker). Pengetahuan telah menjadi modal bagi pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi andalan lantaran dapat terdepresiasi bahkan memunculkan perusakan lingkungan yang ujungnya merugikan umat manusia“. Berbeda dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang, maka perekonomian berbasis pengetahuan (knowledge base economy) pada akhirnya mematahkan pendapat sumber daya alam sebagai landasan ekonomi (resource base economy). Oleh karena itu, penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi salah satu sumber competitive advantage bagi setiap bangsa di masa yang akan datang. Bangsa kita jangan sampai terlena dan ternina bobo-kan oleh slogan bahwa negara kita kaya raya dengan sumber daya alam yang dapat mencukupi segala kebutuhan bangsa mencapai masyarakat adil dan makmur.
Perekonomian berbasis pengetahuan merupakan usaha untuk meningkatkan daya saing, produktivitas, dan pertumbuhan dengan pendekatan baru, pola pendidikan, inovasi, memanfaatkan teknologi informasi, meluaskan jejaring kerja sama, dan memberikan peran yang berbeda kepada pemerintah.
Norwegia salah satunya, yang membuktikan bagaimana kekuatan ilmu pengetahuan mengatasi ketersediaan sumber daya alam. Negeri di kawasan Skandinavia ini memiliki wilayah pesisir yang sangat terbatas. Namun Norwegia terbukti begitu terkenal dengan produk ikan Salmon.
Kekuatannya terletak pada riset yang terfokus. Anggaran dan sumber daya riset sangat terbatas membuat negara tersebut tidak menembak “semua sasaran” atau seluruh disiplin ilmu. Pemerintah kemudian menetapkan beberapa bidang riset utama dan salah satunya kelautan. Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya alam, Norwegia bekerja sama dengan Cile yang memiliki kawasan pesisir dengan karakter sama dibidang penelitian kelautan,khususnya untuk riset terkait ikan Salmon.
Norwegia juga bekerjasama dengan Perancis untuk mengeksploitasi minyak dan gas di lepas pantai di Ormen Lange. Keputusan ini yang dapat mengentaskan negara ini dari krisis minyak tahun 1974,bahkan menjadi eksportir minyak terbesar ketiga di dunia setelah Arab Saudi dan Rusia, serta menjadi produsen minyak terbesar ke-6 di dunia. Bukan hanya itu, Norwegia pun juga mengekspor teknologi migasnya mendekati 4 miliar Euro per tahun. Luar biasa kan?
Suatu masyarakat berbasis pengetahuan terbentuk paling sedikit oleh lima elemen dasar (Lester C. Thurow,1999),yaitu:
-
Penataan masyarakat.
-
Kewiraswastaan.
-
Pembentukan pengetahuan.
-
Keterampilan.
-
Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Penataan masyarakat perlu dilakukan sebagai langkah untuk menyiapkan masyarakat sejahtera berbasis pengetahuan karena tanpa adanya masyarakat yang tertata secara sosial,maka elemen lainnya tidak akan mungkin akan dapat diciptakan. Penataan masyarakat haruslah meliputi peningkatan kualitas pendidikan dan mereformasi struktur organisasi masyarakat sehingga siap untuk menerima perubahan yang terjadi. Setelah dilakukan penataan masyarakat, barulah dilakukan pengembangan sektor ekonomi dengan mengoptimalisasi SDM potensial yang dimiliki negara tersebut.
Setelah masyarakat atau sektor sosial berhasil ditata kembali, selanjutnya yang harus dikembangkan adalah sektor kewiraswastaan. Jiwa kewiraswastaan ini diperlukan untuk melihat berbagai kemungkinan bisnis dari teknologi baru, seperti e-commerce, dan siap memecahkan segala rintangan yang menghalangi terciptanya tatanan baru. Jika kewiraswastaan juga memupuk mentalitas masyarakat untuk berani mengambil resiko.
Pembentukan pengetahuan diperlukan karena dengan pengetahuan kita mampu menciptakan berbagai terobosan mendasar di bidang teknologi yang mampu menciptakan kondisi disequilibrium. Pembentukan pengetahuan dilakukan dengan melatih kreativitas, dan kreativitas hanya akan lahir bila ada ruang gerak tanpa ada berbagai aturan. Tetapi, bila ruang gerak terlalu leluasa akan timbul chaos dan bila chaos ditekan maka kreativitas akan mati. Untuk meningkatkan dan menggunakan pengetahuan suatu bangsa perlu menyeimbangkan dengan tepat chaos dan order.
Keterampilan diperlukan untuk menemukan pengetahuan baru, menemukan produk dan proses baru, menangani proses produksi yang penting, menjamin terlaksananya pemeliharaan yang memadai bagi peralatan yang rumit, dan bahkan untuk menggunakan produk atau proses yang sangat mutakhir.
Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup diperlukan karena supaya tercipta hubungan timbal balik yang baik antar makhluk hidup dengan lingkungan (ekologi). Sumber daya alam dapat digunakan untuk memproduktifkan industri, tetapi pengembangan teknologi telah mampu mengurangi penggunaan dan meningkatkan suplai secara efektif dari SDA itu.
Untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang berbasis pengetahuan, bukanlah hal yang mudah. Tetapi, Prof. Zuhal telah menunjukkan bahwa dengan membangun visi besar itu, insya Alloh itu semua bukanlah mimpi dan sekedar wacana. Kesungguhan itu saya lihat dari semangat yang coba beliau tularkan. Kita semua tahu, bagaimana kekuatan berfikir besar akan mampu memberikan semangat dan ruh tersendiri dalam bergerak. Kita sebagai generasi muda, tentunya malu dengan beliau jika kita kalah semangat dengan beliau. Banyak pelajaran yang saya ambil dari pertemuan itu, dan tentunya transfer semangat dan ilmu itu telah menanamkan visi tersendiri dalam diri ini.
Acara terus berlanjut hingga malam hari, dan esoknya dilanjutkan dengan olahraga bersama menjalin ukhuwah. Semoga dari pertemuan ini KALAM SALMAN mampu melahirkan program nyata yang akan mensupport terbentuknya masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, tentunya berawal dari menumbuhkannya di internal keorganisasian KALAM SALMAN itu sendiri.