Penangkapan salah seorang anggota Komisi IV DPR RI Rabu ( 9/4/2008 ) dini hari di sebuah hotel oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambah deretan panjang para pemimpin dan wakil rakyat di negeri ini yang terjerat kasus korupsi. Dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, dimana kasus ini masih dalam pemeriksaan KPK, tetapi peristiwa ini telah merusak kepercayaan dan kredibilitas pemimpin dimata rakyatnya. Fenomena ini memunculkan pertanyaan apakah korupsi memang telah menjadi bagian praksis dalam kehidupan sehari-hari bangsa kita sebagaimana yang pernah dikatakan Mantan Wakil Presiden I Mohammad Hatta..?
Sungguh harta memang fitnah dunia yang akan siap menjebak siapa saja yang rakus terhadapnya. Segala macam cara akan dilakukan untuk dapat menumpuk kekayaan dan membanggakannya dengan harapan kehormatan dan popularitas akan berpihak kepadanya. Harta memang ujian bagi manusia, dan Islam tidaklah “phobia” tetapi juga tidak “hobi” terhadap harta. Islam menempatkan harta secara proporsional. Dengan harta manusia bisa beramal jauh lebih banyak, tetapi dengan harta pula tidak sedikit manusia yang terjatuh dalam kehinaan. Belum hilang dalam benak pikiran saya ketika para pemimpin dan wakil rakyat itu meneriakkan janji dan komitmen mereka dalam pemberantasan korupsi ketika kampanye-nya hanya untuk memperoleh simpati dan dukungan publik terhadapnya. Ada pemimpin yang memang konsisten dengan apa yang ia ikrarkan dulu dihadapan pendukungnya, tetapi tidak sedikit yang ingkar karena integritasnya telah tergadaikan dengan uang.
Hati saya bertanya, mengapa rangkaian penangkapan para pejabat yang terlibat kasus korupsi tak kunjung menimbulkan efek jera bagi orang lain. Hari ini ada penangkapan koruptor, esok atau lusa terulang kembali. Blow up media masa sebagai efek publisitas yang luas yang kadang berdimensi mempermalukan secara sosial ternyata tidak mempunyai dampak. Agaknya menurut hemat saya, sistem nilai tampaknya bergeser. Terpidana korupsi yang selesai menjalani hukuman disambut hangat oleh komunitasnya. Mereka kembali tampil sebagai figur publik, tanpa beban. Mereka yang tertangkap agaknya mempersepsikan diri sebagai “yang sedang sial karena ketahuan” karena sebenarnya, menurut persepsi mereka mungkin, praktik serupa juga dilakukan orang lain.
Bangsa ini telah lelah dengan orang-orang munafik yang manis dibibir ketika ia memerlukan dukungan publik dalam pencalonan dirinya sebagai pemimpin atau wakil rakyat, tetapi setelah jabatan dan kekuasaan ia dapatkan ia melupakannya. Mata hatinya tertutupi dengan silaunya kekayaan padahal rakyatnya makin terhimpit dengan kesulitan ekonomi. Fasilitas demi fasilitas telah mereka dapatkan secara cuma-cuma, tetapi tak juga menjamin mereka untuk tidak memanfaatkan kedudukannya untuk melakukan tindak pidana korupsi. Ini semua membuktikan bangsa kita mendamba lahirnya pemimpin yang memiliki integritas tinggi.
Memegang teguh integritas akan berujung pada tiga hal: bersikap apa adanya pada diri sendiri, pada orang lain, dan tidak munafik. Pemimpin yang memiliki integritas, ia akan bersikap apa adanya pada dirinya sendiri. Dalam diri kita sebenarnya akan muncul sinyal tidak nyaman ketika kita melakukan sesuatu yang berdosa dan tidak sesuai dengan prinsip yang ia pegang. Orang yang integritasnya lemah akan tidak mengindahkan sinyal-sinyal dalam dirinya itu. Tanda-tanda yang mengatakan “Jangan lakukan hal ini”, tetapi kita tetap saja melakukannya. Setiap orang yang akan melakukan korupsi pasti akan muncul bisikan-bisikan itu. Perang batin antara komitmen dengan integritas dan “kesempatan” pasti akan terjadi. Jika kita melakukan hal ini,tanpa mengindahkan bisikan hati maka hanya akan membuat kita gugup dan dipenuhi rasa takut jika ketahuan dan dihukum. Ujung dari kebohongan yang kita lakukan hanyalah akan merusak kepercayaan publik dan menjadi bumerang bagi kita di masa yang akan datang.
Pemimpin yang memiliki integritas yang kokoh akan apa adanya dengan orang lain. Senantiasa membangun komunikasi yang syarat dengan kejujuran dan sikap menepati janji akan membangun kredibilitas kita dimata orang lain. Kita tidak akan melakukan selain apa yang kita katakan. Korupsi merupakan bentuk kebohongan publik karena akibat tidak adanya proses transparansi. Ketika kebohongan publik itu terbongkar bukan hanya pribadi yang akan dipermalukan tetapi banyak orang akan dikecewakan, karena setiap pemimpin memiliki basis pendukung. Ketidakpercayaan publik akibat pemimpin yang tidak memiliki integritas tidak sedikit yang berujung pada tindakan anarkis para pendukung yang telah dikhianati.
Bangsa ini harus mampu melahirkan pemimpin yang memiliki integritas untuk dapat bangkit menjadi negara maju dimasa yang akan datang. Sebuah visi besar ini dan nilai integritas harus tertanam dalam diri para pemuda, yang bukan hanya mereka kritis ketika menjadi mahasiswa, tetapi setelah kedudukan dan kekuasaan diperolehnya integritas itupun tergadaikan. Saya teringat dengan lagu Slank yang sempat membuat beberapa anggota dewan merasa dilecehkan karena menyebutkan “mafia” di Senayan. Lagu bisa menjadi sebuah kritik sosial yang biasanya digunakan sebagai mimbar para seniman. Berikut ini adalah lirik lagu Slank yang berjudul Gossip Jalanan:
Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi
Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda
Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau … Kacau balau negaraku ini …
Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara
Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat
Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar
Lagu ini harusnya menjadi cerminan kritik sosial masyarakat terhadap pemimpin bangsa kita. Lagu ini harus diposisikan bukan untuk menghina atau melecehkan lembaga tinggi negara atau lembaga negara lainnya, tetapi harusnya menjadi bahan introspeksi bahwa masyarakat melihat kinerja para pemimpinnya. Mereka akan mencintai pemimpin yang tulus dan memiliki integritas dan membenci pemimpin yang tak ubahnya seperti mafia yang menumpuk kekayaan pribadi melalui kekuasaannya meskipun rakyat dan negeri ini harus menjadi taruhannya.
Mari sejahterakan negeri dengan generasi Robbani yang memiliki integritas sejati…
kaito724 Said:
on Friday, April 11, 2008 at 10:10 am
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!