Apa yang anda fikirkan ketika anda membaca judul dari tulisan saya kali ini?. Mungkin anda akan mengatakan ini sebuah keputusasaan dan rasa pesimis yang menghinggapi perasaan saya melihat kondisi bangsa kita saat ini. Mungkin anda juga akan berfikiran sama, jika setiap hari anda membuka lembaran surat kabar, browsing di portal berita, hingga melihat acara dan berita di televisi anda selalu disuguhi oleh berita dan acara aksi kekerasan, pembunuhan, gossip, pornoaksi dan pornografi, korupsi para pejabat, intrik-intrik politik para penguasa yang haus akan kekuasaan hingga yang takut kekuasaannya digoyahkan, sinetron dan perfilman yang lebih mengedepankan eksploitasi nafsu daripada pendidikan, belum lagi masalah kemiskinan, kriminalitas, dan masih banyak segudang masalah lain yang senantiasa menghiasi pikiran kita. Dari sini anda akan menyadari dan merasakan, bagaimana pengaruh media dalam membentuk mind set kita, menjadi bangsa yang senatiasa berfikir positif atau negatif. Saya menulis tulisan ini sebagai kritik sosial terhadap media dan kontrol pemerintah yang lemah terhadap media sehingga sadar ataupun tidak mind set kita akan terbentuk dengan apa yang kita lihat dan rasakan saat ini, yang berpengaruh pada sikap dan perilaku masyarakat yang pesimistis, destruktif, dan berfikir pendek… Seorang futuris terkemuka John Naisbitt dalam bukunya Mind Set! menuliskan bahwa kita bisa mengetahui masa depan dengan melihat apa yang terjadi hari ini. Lebih lanjut, kita bisa mengetahui masa depan sebuah masyarakat dengan melihat apa yang diberitakan di media massa hari ini. Berdasarkan riset awal yang dilakukan Litbang Media Group terhadap tiga koran nasional kita sejak awal tahun hingga sekarang, tampak bahwa sebagian besar berita utama kita berkisar tentang masalah. Beberapa di antaranya adalah kasus korupsi pejabat publik, kesulitan ekonomi masyarakat, buruknya sarana dan prasarana transportasi publik, buruknya layanan kesehatan, rendahnya kualitas pendidikan, terjadinya kecelakaan dan bencana alam, maraknya penggunaan narkoba, konflik antarkelompok di masyarakat, kriminalitas, rusaknya lingkungan, protes/kritik terhadap kebijakan publik, dan krisis bahan bakar. Betapa panjangnya daftar masalah kita. Bangsa ini dibingkai amat negatif sehingga–tak bisa tidak–kita jadi berpikir bahwa kita memang bangsa yang bermasalah, sakit, harus disembuhkan. Pemberitaan yang bersifat positif jauh lebih sedikit, minoritas jika dibandingkan dengan berita negatif. Beberapa di antaranya adalah rencana program pengentasan kemiskinan, kerja sama internasional, dan prestasi olahraga. Itu pun amat jarang dijadikan sebagai kepala berita. Bisa masuk halaman muka saja sudah luar biasa karena halaman muka biasanya diisi dengan berita negatif. Jika dihitung, perbandingan kemunculan berita positif dengan berita negatif bisa mencapai sekitar 1:4.
Berita negatif adalah berita yang menimbulkan emosi negatif seperti marah, sedih, jijik, malu, takut, atau cemas. Adapun berita positif adalah berita yang menimbulkan emosi positif seperti senang, gembira, berharap, antusias, atau terhormat. Jadi, setiap hari kita hanya bisa merasakan satu emosi positif, sedangkan emosi negatif bisa empat kali kita rasakan. Jika dikalikan 365 hari, dalam setahun emosi positif yang kita rasakan 365 kali, sedangkan emosi negatif yang kita rasakan mencapai 1.460 kali!. Tentu saja, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan media massa sebagai biang kerok emosi negatif yang muncul di tengah masyarakat saat ini. Media massa juga merupakan bagian dari masyarakat sehingga apa yang ditampilkan di media merupakan cerminan dari wacana yang berkembang di tengah masyarakat. Meski demikian, media massa juga berperan penting dalam membentuk opini masyarakat, terutama tentang masyarakat itu sendiri. Melalui bahasa yang digunakan media massa, emosi kolektif tertentu bisa terbangun dan memengaruhi perilaku kolektif. Jika emosi kolektif positif terbangun, perilaku kolektif cenderung positif. Sebaliknya, jika emosi kolektif negatif yang terbangun, perilaku kolektif negatiflah yang sangat mungkin muncul. Jadi, apa yang dibicarakan, dikomunikasikan, dan dipertukarkan di tengah masyarakat, termasuk di media massa, pada akhirnya mengonstruksi realitas di tengah masyarakat itu sendiri.
Memajukan Masyarakat Dengan Berfikir Positif dan Optimis
Dalam kehidupan ini, kita memang senantiasa menghadapi problematika. Namun, jika masyarakat senantiasa dibentuk pola pikirnya dengan pikiran positif, maka optimisme yang dimunculkan akan memberikan energi untuk menghadapi persoalan. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, “Ana `inda zhanni `abdii bii” (Aku seperti yang diduga/ dibayangkankan hamba-Ku). Imam Al-Qurthubi, seperti dikutip pakar hadis Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari (13/386), menjelaskan dugaan atau sangkaan dimaksud adalah “dugaan pasti dikabulkan jika berdoa, diterima jika bertobat, diampuni jika memohon ampunan (istighfar), diberi balasan jika beribadah sesuai ketentuan”. Imam Nawawi, dalam Syarh Shahih Muslim (17/2) menambahkan, “dugaan akan diberi kecukupan dalam hidup jika ia minta dicukupi”.
Hadis diatas mengajak kita untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Sekecil apa pun yang kita lakukan, selagi disertai ketulusan, pasti akan diberi balasan oleh Swt (QS. Ali Imran 195). Sebab rahmat Allah sangatlah luas, “maka jangnlah kalian berputus asa dari rahmat Allah”, demikian QS Yusuf ayat 87. Segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit telah diperuntukkan untuk kebaikan manusia, karena ia telah dipilih untuk bertugas menjadi khalifah yang akan memakmurkan bumi.
Sikap optimis inilah yang akan memberi dorongan kuat dalam diri untuk berkarya, berkreasi dan berprestasi. Alkisah, seorang Jendral Jepang termasyur bernama Nobunaga memutuskan untuk menyerang musuh meskipun jumlah prajuritnya hanya sepersepeluh dari jumlah prajurit musuh yang akan dihadapinya. Ia memiliki kenyakinan akan mendapatkan kemenangan, tapi para prajuritnya pesimis/sangsi. Para prajurit mengatakan ini hal yang mustahil. “Mana mungkin kita melawan musuh yang secara jumlah kita sudah tidak berimbang”. Dalam perjalanannya menuju mendan pertempuran, Jendral Nobunaga berhenti di sebuah kuil Shinto, Ia kemudian melakukan doa, setelah berdoa dalam kuil sang Jendral berkata, “sekarang aku akan melempar mata uang, jika nanti yang muncul gambar kepala maka kita akan menang, dan jika angka kita akan kalah, nasib akan terungkap sekarang. Lalu ia melempar mata uang tersebut. Ternyata kepala yang muncul. Kemudian para prajurit begitu bersemangat untuk maju kemedan perang dan memenangkan dengan mudah. Hari berikutnya, seorang Ajudan berkata kepada Sang Jendral Nobunaga, “tak seorang pun dapat mengubah yang sudah ditakdirkan”. “ Memang benar”, kata Sang Jendral Nobunaga sambil menunjuk mata uang rangkap yang kedua sisinya bergambar kepala. Tapi lihatlah, pikiran positif yang coba ditularkan oleh sang Jenderal mampu memberikan energi untuk meraih kemenangan walaupun seolah itu mustahil dilakukan.
Pemberitaan Media Harus Bisa Membentuk Masyarakat Yang Optimis
Saya mencoba mengamati pemberitaan media di negara-negara maju. Sebagai contoh, ketika Senator Hillary R. Clinton bertarung dengan Barrack Obama memperebutkan kursi calon presiden dari Partai Demokrat di Amerika. Dalam pemberitaan yang dimunculkan semangat Hillary dalam mengejar ketertinggalan perolehan dukungan dibandingkan Barrack Obama, jika ada pemberitaan negatif seperti Hillary yang sering membuat pernyataan negatif tentang Barrack Obama media juga mengimbangi dengan pernyataan para pendukung dan delegasi Partai Demokrat untuk menyerukan Hillary maupun Barrack Obama untuk tidak saling “menyerang” karena hanya akan memperburuk citra Partai dan mengusulkan keduanya untuk bersatu mempersiapkan diri menghadapi rival politiknya dalam pemilu November 2008 nanti. Selain itu, ketika dalam pemberitaan kekalahan Hillary terhadap Barrack Obama kemarin juga sudut pandang yang diambil adalah bagaimana sifat kesatria Hillary yang telah “bertarung” sampai detik terakhir dan ketika kalah ia mampu menerima kekalahan sebagai kesatria yang terhormat.
Lihatlah, sudut pandang positif yang coba dibentuk oleh media barat ternyata mampu membentuk paradigma berfikir positif dan optimis terhadap masyarakatnya. Pertanyaannya, mampukah media di negara kita melakukan hal serupa dengan lebih mengedepakan pemberitaan yang bersifat konstruktif dibandingkan destruktif?. Jika kita punya itikad baik untuk memperbaiki kualitas bangsa kita, maka hal itu sangat mudah dilakukan.
Marilah kita bersama, pemerintah, media, dan masyarakat bersama membangun bangsa ini dengan membangun masyarakat yang cerdas dan optimis. Setiap permasalahan bangsa yang kita hadapi akan dapat kita lalui bersama dengan baik jika kita senantiasa optimis, karena dengan berfikir optimis kita akan mampu mengambil pelajaran (hikmah), belajar dari kesalahan, dan mencari jalan keluar dengan mudah. Perubahan paradigma itulah kuncinya. Jika tidak segera dilakukan bersama, maka saya yakin bangsa kita tak akan pernah maju…selamanya….
Julian Said:
on Tuesday, June 10, 2008 at 11:18 am
Setuju, Mas Agus. Untuk memulai perubahan positif kita memang harus mengawalinya dari pikiran yang positif juga. Karena apa yang kita pikirkan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, maka sebaiknya media harus bisa memberikan pengalaman positif bagi pembaca, pendengar, atau pemirsanya.
Meskipun peristiwa yang diberitakan buruk, dengan bahasa yang positif mungkin saja pengalaman positif itu bisa terbentuk. Positif di sini maksudnya yang konstruktif dan produktif, artinya tidak melahirkan tindakan negatif, apatis, tetapi sebuah inisiatif yang baik.
hewan Said:
on Wednesday, June 11, 2008 at 9:38 am
tapi saya teringat kata orang entah-itu-siapa-saya-lupa,
katanya:
“Terkadang kita harus mundur dulu untuk dapat maju”
musyamu Said:
on Wednesday, June 11, 2008 at 9:45 am
sangat setuju sama kang agus kalau media sangat berperan untuk membentuk mindset kita..akhir-akhir ini, saya jadi malas melihat berita, hampir semuanya cendrung memberitakan hal negatif! jika saat ini di Indonesia media diorientasikan untuk cari profit semata sepertinya berhasil..tapi kalo untuk memajukan bangsa indonesia??[jawab sendiri]
wassalam
sukem06 Said:
on Saturday, June 14, 2008 at 1:40 pm
bang agus… panjang banget tulisannya
bicara media, memang membentuk mind-set itulah salah satu arti penting media. makanya, mungkin kita juga perlu untuk mendukung media2 yang ‘relatif’ netral
ada ide media apa?
mrfajarsyah Said:
on Friday, July 11, 2008 at 9:45 am
jangan lupa berdoa juga
Allahumma inni audzubika minal hammi wal khazan, wa audzubika minal ‘ajzi wak kasl, wa audzubika minal jubni wal bukhl, wa audzubika min gholabatidh dhorir wa qohril rijaal.
(btw bener ga tulisan latinnya kang agus..lupa artinya soalnya)
yudhaindrawan Said:
on Tuesday, August 12, 2008 at 11:22 pm
Mungkin gini kang:
topik yang paling sering dicari orang didunia ada tiga:
seks, kriminal, dan cuaca
ntah bagaimana tapi media nampaknya terlalu malas untuk keluar dari ‘zona nyaman’ tsb.
sama seperti si punjabi yang tetap ‘keukeuh’ untuk memroduksi film-film dengan isi dan tema yang dangkal (misteri) hanya karena alasan semua masyarakat suka dengan film tersebut
Kategori baru: Prestasi Indonesia « It’s my life, it’s now or never Said:
on Friday, August 15, 2008 at 5:23 pm
[...] by yudhaindrawan in Inspirasi, Prestrasi Indonesia. trackback Waktu itu saya membaca blognya kang agus tentang sikap negatif yang membuat bangsa ini ga akan [...]
BigBaNG Said:
on Wednesday, August 20, 2008 at 9:43 pm
Ztttt…, istirahat sejenak. Rasakan dahsyatnya PENCERAHAN dari buku MUSLIMONOT di blog kami. Ayo mampir dulu!
robee Said:
on Thursday, August 21, 2008 at 4:39 pm
wah masa judulnya gtu?
sungguh sangat mengusik hati..
komen dulu baru baca ah,,,
tamrin Said:
on Monday, November 10, 2008 at 4:30 pm
kadang saya juga sempat bpikir kayak gitu. Sedih juja yak.
Pertanyaan Said:
on Friday, July 17, 2009 at 10:40 am
Salam kenal dari pertanyaan.com, sebuah media tanya jawab online, kamu bisa bertanya berbagai macam hal dan berbagi ilmu disini, dan aq rasa tidak ada ruginya bagi kamu untuk memberi blogroll buat penyebaran web ini … Thanks and yuk berbagi ilmu disini